Cara Membuat Kue Nastar Gulung Spesial yang Lembut dan Enak

Kue Nastar Gulung adalah Kue cemilan saat Lebaran yang sangat Istimewa, dengan tekstur kue yang lembut dapat memanjakan lidah anda. Kue Nastar gulung sangat mudah dalam membuatnya, dengan sedikit resep dari bunda sahabat pembaca Racikanbumbu.com pasti dapat menghasilkan kue Nastar yang nikmat. Yuk kita buat bagaimana sih cara membuat Kue Nastar gulung yang enak.

Resep cara membuat Nastar Gulung Spesial yang Lembut dan Enak
Bahan:
  • 150 gram tepung terigu protein rendah
  • 100 gram tepung terigu protein sedang
  • 150 gram margarin
  • 50 gram butter
  • 40 gram gula halus, ayak
  • 15 gram susu bubuk
  • 1 butir kuning telur
  • ¼ sendok teh garam
Bahan Isian :
  • 350 gram nanas kupas, parut
  • 125 gram gula pasir
  • 2 cm kayu manis
  • 5 butir cengkeh
  • ¼ sendok teh garam
  • ½ sendok teh air jeruk lemon

Bahan Olesan :
  • 1 butir kuning telur
  • 1 sendok makan margarin, lelehkan
Cara membuat :
  1. Isian: Campur semua bahan kecuali air jeruk lemon. Masak dengan api kecil sambil diaduk hingga agak kering dan kesat. Tambahkan air jeruk lemon aduk rata. Matikan api dan dinginkan. Ambil satu sendok teh selai, bentuk bulat memanjang. Sisihkan.
  2. Bahan olesan: Campur margarin dengan kuning telur, aduk rata. membuat nastar
  3. Ayak tepung terigu dengan susu bubuk, sisihkan.
  4. Kocok margarin dengan gula halus dan garam selama 1 menit. Tambahkan kuning telur, kocok sebentar hingga rata.
  5. Masukkan campuran tepung dan aduk hingga rata. Giling adonan dengan alat penggiling. Potong adonan 3x4x0,3 cm. Beri isian di tengahnya,  gulung memanjang dan padatkan. resep nastar super lembut
  6. Letakkan di atas loyang yang telah dioles margarin. Oles permukaan nastar dengan bahan olesan.
  7. Panggang dalam oven yang telah panas selama 25-30 menit dengan suhu 150’C hingga matang dan berwarna kuning kecoklatan. Keluarkan dari oven, dinginkan. Sajikan atau simpan dalam toples yang tertutup rapat.
Untuk 550 gram

CARA MEMBUAT KUE ULAT SAGU & RESEPNYA

Di kesempatan berbahagia ini, kami akan mencoba memberikan resep kue yang memang mudah dan praktis dalam pembuatannya. Tidak hanya dari CARA MEMBUAT KUE ULAT SAGU & RESEPNYA tetapi bahan bahan dasar dari resep kue ini memang mudah sekali kalian cari dan mudah-mudahan dapat membantu anda untuk mendapatkan hidangan yang dapat anda sajikan untuk keluarga anda dirumah. Tentunya resep ini dapat anda peroleh secara gratis tentunya. Tapi kami ingatkan terkadang resep yang sama tetapi memiliki rasa yang berbeda. Coba lah beberapa kali hingga mendapatkan hidangan kue yang benar benar sesuai dengan lidah anda. Dibawah ini akan kami berikan bahan dasar beserta juga dengan cara pembuatan kue ulat sagu & Resepnya :

Bahan Dasar Resep Kue Ulat Sagu

Bahan dasar resep kue ulat sagu yang perlu anda persiapkan diantaranya adalah :
  • 400 gram tepung sagu tani

Sangrai

  • 2 lembar daun pandan
  • 200 gram gula halus
  • 150 ml santan kental (bisa menggunakan merk Kara 65 ml 2pcs)
  • 150 gram keju parut
  • 1/2 sendok tek garam
  • 2 sendok makan susu bubuk
  • Vanili secukupnya
  • 250 gram mentega (saran gunakan 150 gram merk blueband dan 100 gram merk wysman)
  • 2 butir kuning telur dan 1 butir telur

Cara membuat Kue Ulat Bulu Sagu

  1. Campur 400 gram tepung sagu dengan daun pandan
  2. Dibidang lain campur mentega, garam , vanili, gula dan telur . Campur hingga merata, gunakan mixer dengan kecepatan rendah
  3. Setelah itu campur bahan di langkah ke dua dengan keju dan santan aduk hingga rata
  4. Masukkan tepung sedikit demi sedikit sampai kedua adonan tercampur
  5. Ambil adonan lalu gulungkan diatas sisir memanjang
  6. Setelah itu tata di loyang yang bersemir mentega
  7. Panggang dengan api sedang hingga matang
Nah, bagaimana? Mudah kan membuat Resep Kue Ulat Sagu Dan Cara Membuatnya ? Dengan adanya informasi resep ini tentunya, kamu tidak perlu lagi beli kue ini di warung ataupun di restoran bukan ? Ajak pasangan anda ataupun anak anda untuk ikut membuat masakan ini. Tentunya nanti akan ada beberapa experiment yang dapat anda lakukan. Semoga dengan adanya resep kue kering ini dapat berguna bagi keluarga anda. Terima kasih.

23 Hukum Seputar Puasa yang Wajib Kita Ketahui & Pelajari Agar Tidak Keliru

Menyambut datangnya Bulan Ramadhan, Nah, berikut ini merupakan 23 Hukum Seputar Puasa yang Wajib Kita Ketahui & Pelajari Agar Tidak Keliru, hal seputar puasa, yang di kutip dari Kitab Ahkâm ash-Shalâh, karya Syaikh Ali Raghib. Jadi teringat perkataannya Imam Bukhari, “Al ‘Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amali (Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat)“.

1. Dalil wajibnya puasa Ramadhan

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Siapa saja di antara kalian yang melihat hilal bulan Ramadhan, maka berpuasalah. (QS al-Baqarah [2]: 185).

Dalil puasa juga didasarkan pada hadis penuturan Ibn Umar ra. yang menyatakan:

«اَنَّ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: بُنِيَ اْلاِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهاَدَةِ اَنْ لاَ الَهَ اِلاَّ اللهُ، وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَاِقاَمِ الصَّلاَةِ، وَاِيْتاَءِ الزَّكاَةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضاَنَ»

Sesungguhnya Nabi saw. pernah bersabda, “Islam itu dibangun di atas lima perkara: kesaksian bahwa tidak Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah; mendirikan shalat; menunaikan zakat; beribadah haji; dan shaum Ramadhan.” (HR al-Bukhari, Muslim dan Ahmad).

2. Puasa wajib bagi orang yang baligh dan berakal

Karena itu, secara pasti shaum merupakan kewajiban setiap Muslim yang telah balig dan berakal. Dalam hal ini, anak-anak dan orang gila tidak wajib untuk berpuasa. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi saw.:

«رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: عَنِ الصَّبِي حَتَّى يَبْلُغَ وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَفِيْقَ»

Telah diangkat pena (taklif hukum) atas tiga orang: dari anak kecil hingga balig; dari orang yang tidur hingga dia bangun; dan dari orang gila hingga ia waras. (HR Abu Dawud).

3. Wanita haid dan nifas tidak wajib puasa

Wanita haid dan nifas juga tidak wajib berpuasa, karena puasa bagi mereka adalah tidak sah. Jika mereka telah suci dari haid maka mereka wajib meng-qadha’ puasa yang ditinggalkannya. Ketentuan ini didasarkan pada hadis penuturan Aisyah ra. yang menyatakan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:

«فِي الْحَيْضِ كُنَّا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ»

Karena haid, kami telah diperintahkan untuk meng-qadha’ shaum, tetapi kami tidak diperintahkan untuk meng-qadha’ shalat. (HR Muslim, an-Nasa’i, Abu Dawud, Ibn Majah dan Ahmad).

4. Yang diwajibkan membayar fidyah?

Siapa saja yang tidak kuasa untuk berpuasa karena suatu kondisi tertentu, seperti orang yang sudah sangat tua/lanjut usia, yang menjadikan shaum baginya sangat berat, lalu orang yang sakit yang penyakitnya tidak mungkin disembuhkan, maka mereka juga tidak wajib untuk berpuasa; tetapi mereka wajib untuk membayar fidyah sebagai gantinya. Ketetapan ini didasarkan pada firman Allah SWT:

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Tidaklah Allah menjadikan di dalam agama ini suatu hal yang berat/kesempitan bagi kalian. (QS al-Hajj [22]: 78).

Allah SWT juga berfirman:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

Bagi orang-orang yang menanggung beban berat dalam berpuasa, mereka wajib memberikan fidyah, yakni memberi makan orang miskin. (QS al-Baqarah [2]: 184).

Ada juga hadis penuturan Ibn Abbas bahwa Nabi saw. pernah bersabda:

«وَمَنْ اَدْرَكَهُ الْكِبَرُ فَلَمْ يَسْتَطِعْ صِيَامَ رَمَضاَنَ فَعَلَيْهِ لِكُلِّ يَوْمٍ مُدًّ مِنْ قَمْحٍ»

Siapa saja yang telah mencapai usia lanjut, lalu dia tidak kuasa untuk melaksanakan puasa Ramadhan, maka ia wajib untuk mengeluarkan satu mud gandum setiap hari. (HR al-Baihaqi dan ad-Daruquthni).

Ibn Umar ra. juga menuturkan hadis:

«اِذَا ضَعُفَ عَنِ الصَّوْمِ اَطْعِمْ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مُدًّا»

Jika seseorang lemah dalam melaksanakn shaum, hendaknya ia memberikan makan kepada orang miskin satu mud setiap hari. (HR al-Baihaqi dan ad-Daruquthni).

Dari Anas ra. juga dikatakan:

«أَنَّهُ ضَعُفَ عَنِ الصَّوْمِ عَامًا قَبْلَ وَفاَتِهِ فَافْطَرَ وَاَطْعَمَ»

Ia tidak berdaya untuk melaksanakan shaum sepanjang tahun sebelum wafatnya, lalu ia berbuka dan memberi makan makan orang miskin. (HR ath-Thabrani dan al-Haitasmi).

5. Yang diwajibkan qodho puasa ?

Jika seseorang tidak kuasa untuk berpuasa karena sakit dan ia khawatir sakitnya bertambah parah, ia juga tidak wajib untuk berpuasa, karena di dalamnya ada rasa berat sehingga dia boleh berbuka. Kemudian, jika dia sembuh maka dia wajib untuk meng-qadha’-nya. Ketentuan ini didasarkan pada firman Allah SWT:

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Siapa saja di antara kalian yang sakit, atau dalam perjalanan, maka hendaknya ia mengganti puasanya pada hari yang lain sejumlah yang ditinggalkannya. (QS al-Baqarah [2]: 184).

Jika seseorang sedang berpuasa, lalu ia jatuh sakit, ia boleh berbuka, karena keadaan sakit memang membolehkan seseorang yang berpuasa untuk berbuka.

6. Bagaimana Puasa bagi yang sedang safar (melakukan Perjalanan )?

Sementara itu, berkaitan dengan seorang musafir, jika safar yang dilakukannya tidak mencapai empatbarid atau 80 kilometer, ia wajib tetap berpuasa; ia tidak boleh berbuka. Alasannya, karena safar/perjalanan yang menghasilkan adanya rukhshah (keringanan) untuk berbuka adalah safar syar‘i(bukan semata-mata safar, peny.), yakni empat barid, yang setara dengan 80 km. Jika seorang musafir melakukan safar sejauh 80 km atau lebih maka ia boleh untuk tetap berpuasa dan boleh juga berbuka. Ketentuan ini didasarkan pada hadis penuturan Aisyah ra.:

«اِنَّ حَمْزَةَ اِبْنِ عَمْرُوْ اْلاَسْلَمِي قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَأَصُوْمُ فِي السَّفَرِ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِنْ شِئْتَ فَصُمْ وَاِنْ شِئْتَ فَاَفْطِرْ»

Sesungguhnya Hamzah bin Amr al-Islami pernah bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, “Perlukah aku berpuasa di dalam perjalanan?” Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Jika engkau mau, berpuasalah. Jika engkau mau, berbukalah.” (HR al-Bukhari, Muslim, dan Ashab as-Sunan).

7. Berpuasa bagi yang safar lebih utama ?

Bagi musafir yang puasanya tidak menjadikan dirinya merasa berat/sempit maka tetap berpuasa adalah lebih utama. Sebab, Allah SWT telah berfirman:

وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ

Berpuasa itu adalah lebih baik bagi kalian. (QS al-Baqarah [2]: 184).

Sebaliknya, jika puasanya ternyata telah membebani dirinya, maka dia lebih utama untuk berbuka. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Jabir ra. sebagai berikut:

«مَرَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ بِرَجُلٍ تَحْتَ شَجَرَةٍ يُرَشُ عَلَيْهِ الْماَءُ فَقَالَ: مَا بَالَ هَذَا؟ قَاُلْوا: صَائِمٌ. فَقَالَ: لَيْسَ مِنَ الْبِرِّ الصِّيَامُ فِي السَّفَرِ»

Dalam sebuah perjalanan Rasulullah saw. pernah melewati seorang laki-laki yang sedang berteduh di bawah pohon sambil menyiramkan air ke tubuhnya. Beliau lalu bertanya, “Mengapa orang ini?” Para Sahabat menjawab, “Dia sedang berpuasa.” Mendengar itu, Beliau kemudian bersabda, “Tidak baik berpuasa dalam perjalanan.” (HR an-Nasa’i).

8. Bagaimana qodho wanita hamil ?

Adapun wanita hamil dan menyusui, mereka boleh untuk berbuka, lalu meng-qadha’-nya di luar bulan Ramadhan, baik karena ia khawatir atas dirinya, khawatir atas dirinya dan bayinya, atau semata-mata khawatir atas bayinya; atau bahkan ia tidak memiliki kekhawatiran apapun. Pasalnya, kebolehan wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa semata-mata didasarkan pada statusnya sebagai wanita hamil dan menyusui, tanpa memandang apakah yang bersangkutan memiliki kekhawatiran ataukah tidak (akan kondisi dirinya dan bayinya, peny.). Ketentuan ini didasarkan pada apa yang telah dikukuhkan oleh hadis Nabi saw. dalam Ash-Shahihayn, sebagaimana dituturkan oleh Anas bin Malik al-Ka‘bi. Ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

«اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ الصَوْمَ وَشَطْرَ الصَّلاَةِ وَعَنِ الْحاَمِلِ وَالْمُرْضِعِ الصَّوْمَ»

Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan keringanan bagi musafir dalam shaum dan sebagian shalatnya, sementara keringanan bagi wanita hamil dan menyusui adalah dalam shaumnya. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Hadis di atas tidak memberikan batasan tertentu terkait dengan kebolehan seseorang untuk tidak berpuasa. Hadis tersebut bahkan menyebutkan kebolehan itu secara mutlak bagi wanita hamil dan menyusui, semata-mata karena statusnya sebagai wanita hamil dan menyusui.

Lalu terkait dengan kewajiban wanita hamil dan menyusui untuk meng-qadha’ shaum yang ditinggalkannya, hal itu didasarkan pada alasan bahwa mereka memang wajib untuk berpuasa. Ketika mereka memutuskan untuk tidak berpuasa, maka puasa menjadi utang bagi mereka, yang tentu wajib dibayar dengan cara di-qadha’. Ketetapan ini didasarkan pada hadis penuturan Ibn Abbas ra. yang menyatakan:

«اِنَّ اِمْرَأَةً قاَلَتْ: يَارَسُوْلَ اللهِ، اَنِّ اُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ نَذَرٍ، أَفَاَصُوْمُ عَنْهَا؟ فَقاَلَ: اَرَأَيْتَ لَوْكاَنَ عَلَى اُمِّكِ دَيْنٌ فَقَضَيْتِهِ اَكَانَ يُؤَدِّي ذَلِكَ عَنْهَا؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: فَصُوْمِي عَنْ اُمِّكِ»

Seorang wanita pernah berkata kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah saw., ibuku telah meninggal, sementara ia masih memiliki kewajiban berpuasa nadzar. Perlukah aku berpuasa untuk membayarkannya?” Rasul menjawab, “Bagaimana pendapatmu seandainya ibumu memiliki utang, lalu engkau membayarnya, apakah hal itu dapat melunasi utangnya?” Wanita itu menjawab, “Tentu saja.” Rasul lalu bersabda, “Karena itu, berpuasalah engkau untuk membayar utang puasa ibumu.” (HR Muslim).

Kemudian, tidak adanya kewajiban atas wanita hamil dan menyusui untuk membayar fidyah, hal itu karena dalam hal ini memang tidak ada nash yang menunjukkannya.

9. Bagaimana Keharusan merukyat hilal bulan Ramadhan?

Shaum Ramadhan hanya diwajibkan atas kaum Muslim saat sudah terlihat hilal (bulan sabit tanggal 1) bulan Ramadhan. Jika pada saatnya hilal Ramadhan terhalang dari pandangan manusia, maka kaum Muslim wajib menggenapkan bilangan bulan Sya‘ban (menjadi 30 hari), lalu besoknya mereka harus sudah mulai berpuasa. Ketentuan ini didasarkan pada hadis penuturan Ibn Abbas ra. bahwa Nabi saw. pernah bersabda:

«اَنَّ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَاَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ، فَاِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاَكْمِلُوْا الْعِدَّةَ، وَلاَ تَسْتَقْبِلُوْا الشَّهْرَ اسْتِقْبَالاً»

Berpuasalah kalian karena merukyat hilal dan berbukalah kalian (mengakhiri puasa Ramadhan,peny.) juga karena melihat hilal (bulan sabit tanggal 1 Syawal, peny.). Jika hilal terhalang dari pandangan kalian maka genapkanlah bilangan bulan Sya‘ban. Janganlah kalian kalian menyambut bulan itu (dengan berpuasa, peny.). (HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ahmad, dan ad-Darimi).

10. Haruskah Puasa didahului niat ?

Shaum Ramadhan, sebagaimana juga shaum-shaum lainnya, hanya dipandang absah jika didahului dengan niat. Dasarnya adalah sabda Nabi saw.:

«اِنَّمَا اْلاَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ»

Sesungguhnya amal ibadah itu bergantung pada niatnya. (HR Muslim).

Niat wajib dilakukan setiap hari selama bulan Ramadhan. Pasalnya, shaum pada masing-masing hari merupakan ibadah yang berdiri sendiri, yang waktunya dimulai dari terbit fajar dan diakhiri saat matahari terbenam. Shaum pada hari ini tidak bisa ikut-ikutan rusak oleh rusaknya puasa pada hari-hari sebelumnya maupun hari-hari sesudahnya. Karena itulah, tidak cukup satu niat untuk berpuasa sebulan penuh. Akan tetapi, niat harus dilakukan setiap hari.

11. Kapan niat dilakukan

Sahum Ramadhan ataupun shaum-shaum wajib lainnya tidak sah dilakukan jika niatnya baru dilakukan siang hari. Niat shaum wajib dilakukan pada malam hari. Ketentuan ini didasarkan pada hadis penuturan Hafshah:

«اَنَّ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ لَمْ يَبِيْتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ»

Sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda, “Siapa saja yang tidak berniat puasa pada malam hari maka tidak ada puasa baginya.” (HR an-Nasa’i dan ad-Darimi).

Niat boleh dilakukan pada bagian malam manapun sejak terbenamnya matahari hingga terbitnya fajar karena seluruhnya termasuk bagian dari malam hari.

12. Bagaimana dengan niat shaum sunnah ?

Adapun niat shaum sunnah boleh dilakukan setelah terbit fajar sebelum matahari tergelincir. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Aisyah ra.:

«اَنَّ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَصْبَحَ اليَوْمُ، عِنْدَكُمْ شَيْءٌ تُطْعِمُوْنَ؟ فَقَالَتْ: لاَ. فَقَالَ: اِنِّي إِذًا صَائِمٌ»

Sesungguhnya Nabi saw. pernah bertanya, “Apakah pagi ini ada sesuatu (makanan) untuk kalian makan?” Aisyah menjawab, “Tidak ada.” Nabi saw. kemudian berkata, “Kalau begitu, aku akan berpuasa saja.” (HR Ahmad).

Niat shaum Ramadhan juga harus ditentukan. Artinya, seseorang yang hendak berpuasa harus menyatakan diri bahwa ia memang berniat untuk shaum Ramadhan pada hari itu, karena ia merupakan bentuk taqarrub kepada Allah yang terkait dengan waktu pelaksanaannya. Hanya saja, niat tidak mesti dinyatakan secara verbal, tetapi cukup dengan adanya maksud di dalam kalbu. Niat juga hanya dianggap sah jika secara pasti dimaksudkan untuk melaksanakan shaum Ramadhan pada hari tertentu karena menentukan niat pada masing-masing hari adalah wajib.

13. Kapan waktu pelaksanaan puasa?

Waktu pelaksanaan shaum dimulai sejak terbit fajar, yakni fajar shâdiq (waktu subuh) dan diakhiri dengan terbenamnya matahari (saat magrib). Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Umar ra:

«اَنَّ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اِذاَ أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَاهُنَا وَاَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا وَغَابَتِ الشَّمْسُ مِنْ هَاهُنَا فَقَدْ اَفْطَرَ الصَّائِمُ»

Sesungguhnya Nabi saw. pernah bersabda, “Jika malam telah datang dari sini, siang telah berakhir dari sini, dan matahari pun sudah tenggelam, maka orang-orang yang berpuasa berbuka saat itu. (HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad).

Allah SWT juga berfirman:

(وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ

Makan dan minumlah kalian hingga jelas bagi kalian putih-hitamnya sang fajar, lalu sempurnakanlah shaum hingga tiba waktu malam. (QS al-Baqarah [2]: 187).

Jika seseorang yang sedang berpuasa makan dan minum, sementara dia ingat bahwa dia sedang berpuasa, dan dia pun tahu bahwa makan-minum itu haram saat puasa, maka batallah puasanya, karena ia melakukan perkara yang dilarang dalam puasa tanpa ada uzur.

14. Bagaimana meneteskan obat ke dalam hidung?

Jika orang yang sedang berpuasa meneteskan obat ke dalam hidung atau memasukkan air ke lubang telinganya hingga sampai ke otaknya, batallah puasanya. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Luqaith bin Shabrah ra. yang menyatakan:

«قُلْتُ: يَارَسُوْلَ اللهِ، اَخْبِرْنِي عَنِ الْوُضُوْءِ. قَالَ: اَسْبِغِ الْوُضُوْءَ وَخَلِّلْ بَيْنَ اْلاَصَابِعِ وَبَالِغْ فِي اْلاِسْتِنْشاَقِ اِلاَّ اَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا»

Aku berkata, “Wahai Rasulullah saw., beritahulah aku tentang cara berwudhu.” Beliau bersabda, “Sempurnakanlah wudhu, renggangkalah jari-jemari, optimalkanlah menghirup air lewat hidung (ber-istinsyâq), kecuali jika engkau sedang berpuasa.” (HR at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Abu Dawud, Ibn Majah dan Ahmad).

Berkaitan dengan hadis di atas, pemahaman kebalikan (mafhûm mukhâlafah)-nya adalah larangan untuk tidak secara optimal (banyak-banyak) ber-istinsyâq saat berpuasa hingga tidak ada sedikit pun air yang sampai ke otak. Ini berarti, adanya air yang sampai ke otak adalah haram bagi orang yang berpuasa dan membatalkan puasanya. Makan, minum, menghirup sesuatu melalui hidung, dan meneteskan air ke dalam lubang telinga pengertiannya meliputi memasukkan apa saja; baik yang biasa dimakan dan diminum seperti nasi, air, tembakau, dan sejenisnya; ataupun yang biasa diteteskan melalui hidung, telinga, dan sejenisnya. Semua ini membatalkan puasa.

15. Bagaimana hubungan suami-istri saat shaum?

Orang yang sedang berpuasa juga dilarang melakukan hubungan suami-istri. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT:

فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ

Sekarang, campurilah mereka. (QS al-Baqarah [2]: 187).

Ayat ini menunjukkan, bahwa mencampuri istri tidak dibolehkan sebelum sekarang ini, yakni pada siang hari bulan Ramadhan. Apabila yang dicampuri itu kemaluan maka batallah puasa. Jika yang dicampurinya selain kemaluan, atau sekadar mencium tetapi sampai membuat keluar air mani (sperma), maka batal pula puasa seseorang; tetapi jika tidak sampai membuat keluar sperma maka puasanya tidak batal. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Jabir ra. sebagai berikut:

«قَبَلْتُ وَاَنَا صَائِمٌ، فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: قَبَلْتُ، وَاَنَا صَائِمٌ. فَقاَلَ: اَرَأَيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتَ وَاَنْتَ صَائِمٌ»

Aku pernah mencium (istriku) saat sedang berpuasa. Aku lalu menjumpai Nabi saw., kemudian bertanya, “Aku telah mencium (istriku), sementara aku sedang berpuasa.” Rasul saw. lalu bersabda, “Bagaimana pendapatmu jika engkau berkumur pada waktu engkau berpuasa?” (HR Ahmad).

Dalam hadis ini. Nabi saw. telah menyerupakan aktivitas mencium dengan berkumur; jika air sampai tertelan, batallah puasa seseorang; sedangkan jika tidak maka puasanya tidak menjadi batal. Demikian pula halnya dengan mencampuri istri pada selain kemaluan atau sekadar menciumnya.

16. Batalkah orang yang sengaja muntah?

Jika seorang yang sedang berpuasa dengan sengaja membuat dirinya muntah maka batallah puasanya. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Abu Hurairah ra.:

«اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنِ اسْتَقَاءَ عَامِدًا فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ، وَمَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلاَ قَضَاءَ عَلَيْهِ»

Sesungguhnya Nabi saw. pernah bersabda, “Siapa saja yang telah memancing dirinya agar muntah dengan sengaja, ia wajib meng-qadha’ puasanya. Siapa saja yang muntah (tanpa disengaja), ia tidak wajib mengqadha’ puasanya.’” (HR at-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibn Majah dan Ahmad).

17. Bagaimana kalau lupa?

Semua hal di atas jika dilakukan/terjadi dengan catatan, yakni jika orang yang berpuasa melakukannya dengan sengaja. Adapun jika ia melakukakannya karena lupa maka puasanya tidak menjadi batal. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Abu Hurairah ra. yang menyatakan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:

«مَنْ اَفْطَرَ فِي شَّهْرِ رَمَضَانَ نَاسِيًا فَلاَ قَضاَءَ عَلَيْهِ وَلاَ كَفاَرَةَ»

Siapa saja yang berbuka pada bulan Ramadhan karena lupa, ia tidak wajib meng-qadha’ dan tidak wajib pula membayar kafarah. (HR at-Tirmidzi).

Ketentuan di atas juga dirdasarkan pada hadis riwayat al-Bukhari dari Nabi saw. yang pernah bersabda:

«اِذَا نَسِيَ فَأَكَلَ اَوْشَرَبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَاِنَّمَا اَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ»

Jika seseorang yang sedang berpuasa lupa sehingga dia makan atau minum maka sempurnakanlah (lanjutkanlah) puasanya. Sebab, itu hanyalah kehendak Allah yang (dengan sengaja) telah memberinya makan dan minum. (HR al-Bukhari Muslim, Ibn Majah dan Ahmad).

18. Bagaimana melakukan hubungan suami istri padahal sudah terbit fajar?

Jika seseorang makan atau melakukan hubungan suami-istri dengan alasan karena dia menduga bahwa fajar belum terbit, padahal ternyata fajar telah terbit, atau ia mengira bahwa matahari telah terbenam, padahal matahari belum terbenam, maka batallah puasanya dan ia wajib meng-qadha’-nya. Ketetapan ini didasarkan pada hadis penuturan Hanzhalah ra. yang mengatakan:

«كُنَّا بِالْمَدِيْنَةِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ وَفِي السَّمَاءِ شَيْءٌ مِنَ السَّحَابِ. فَظَنَّناَ أَنَّ الشَّمْسَ قَدْ غَابَتْ فَاَفْطَرَ بَعْضُ النَّاسِ فَاَمَرَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَنْ كَانَ قَدْ اَفْطَرَ اَنْ يَصُوْمَ يَوْمًا مَكَانَهُ»

Saat kami berada di Madinah pada bulan Ramadhan, ketika langit dalam keadaan berawan, kami mengira matahari telah terbenam. Lalu sebagian orang berbuka. Karena itu, Umar ra. menyuruh agar orang yang terlanjur berbuka untuk berpuasa pada hari lain sebagai penggantinya. (HR al-Baihaqi dan al-Haitsami).

Ketetapan ini juga didasarkan pada hadis penuturan Hisyam bin Urwah dari Fathimah, istrinya, dari Asma’ yang mengatakan:

«اَفْطَرْنَا عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي يَوْمِ غَيْمٍ، ثُمَّ طَلَعَتِ الشَّمْسُ. قِيْلَ لِهِشاَمِ: اُمِرُوْا بِالْقَضَاءِ. قَالَ: لاَ بُدَّ مِنْ قَضَاءٍ»

Pada masa Rasulullah saw. kami pernah berbuka saat langit dalam keadaan mendung, kemudian matahari masih tampakt. Kepada Hisyam dikatakan, “Mereka disuruh meng-qadha’ puasa.” Dia lalu berkata, “Tentu saja harus meng-qadha’ puasa.” (HR al-Bukhari, Abu Dawud, Ibn Majah dan Ahmad).

19. Bagaimana orang yang berbuka tanpa uzur?

Siapa saja yang berbuka pada siang hari bulan Ramadhan tanpa uzur, ia wajib meng-qadha’ puasanya. Ketentuan ini didasarkan pada sabda Nabi saw.:

«مَنِ اسْتَقَاءَ فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ»

Siapa saja yang memancing dirinya agar muntah, ia wajib meng-qadha’-nya. (HR at-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibn Majah dan Ahmad).

Nabi saw. juga pernah bersabda:

«فَدَيْنُ اللهِ اَحَقُّ بِالْقَضَاءِ»

Utang kepada Allah lebih layak untuk dibayar. (HR Muslim).

20. Bagaimana yang melakukan hubungan suami istri tanpa uzur?

Adapun orang yang berbuka karena melakukan hubungan suami-istri tanpa uzur, maka di samping wajib meng-qadha’ puasanya, ia juga wajib membayar kafarah. Pasalnya, Nabi saw. sendiri telah menyuruh orang yang menyetubuhi istrinya pada siang hari bulan Ramadhan agar meng-qadha’ puasanya. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Abu Hurairah ra.:

«جَاءَ رَجُلٌ اِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: هَلَكْتُ، يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ: وَمَا اَهْلَكَكَ؟ قَالَ: وَقَعْتُ عَلَى اِمْرَأَتِي فِي رَمَضَانَ. فَقَالَ: هَلْ تَجِدُ مَا تَعْتِقُ رَقَبَةً؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: فَهَلْ تَسْتَطِيْعُ اَنْ تَصُوْمَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ؟ قَالَ: لاَ،.قَالَ: فَهَلْ تَجِدُ ماَ تُطْعِمُ سِتِّيْنَ مِسْكِيْنًا؟ قَالَ: لاَ. ثُمَّ جَلَسَ فَاَتَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقِ فِيْهِ تَمَرٌ فَقَالَ: تَصَدَّقْ بِهَذَا. فَقَالَ: أَعَلَى اَفْقَرِ مِنَّا فَمَا بَيْنَ ِلاِبْتِيْهَا اَهْلَ بَيْتِ اَحْوَجَ اِلَيْهِ مِنَّا؟ فَضَحَكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ, ثُمَّ قَالَ: اِذْهَبْ فَاَطْعِمْهُ اَهْلَكَ»

Seorang laki-laki pernah menjumpai Nabi saw. Ia lalu berkata, “Celakalah aku, wahai Rasulullah!” Rasul kemudian bertanya, “Apa yang telah mencelakaknmu?” Dia menjawab, “Aku telah bersetubuh dengan istriku saat siang hari pada bulan Ramadhan.” Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memiliki harta yang dapat memerdekakan hamba sahaya?” Dia menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Dia menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memiliki harta yang bisa memberi makan kepada enam puluh orang miskin?” Dia menjawab, “Tidak juga.” Kemudian dia duduk, sementara Nabi saw. datang dengan membawa bakul besar yang penuh dengan kurma. Setelah itu, Nabi saw. bersabda, “Bersedekalah engkau dengan kurma ini!” Namun, orang itu berkata, “Apakah kepada orang yang paling fakir di antara kami? Sungguh, tidak ada di daerah kami penduduk yang lebih membutuhkan kurma ini daripada kami sekeluarga.” Mendengar itu, Nabi saw. tertawa hingga gigi taringnya tampak. Beliau kemudian bersabda, “Kalau begitu, pulanglah. Lalu beri makanlah keluargamu dengan kurma ini!” (HR Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibn Majah dan Ahmad).

Inilah kafarah wajib yang harus ditunaikan oleh orang yang berbuka pada siang hari bulan Ramadhan dengan menggauli istrinya secara sengaja.

21. Bagaimana hukum makan sahur?

Orang yang berpuasa disunnahkan untuk makan sahur. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Anas ra.:

«اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: تَسَحَّرُوْا فَإِنًّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةٌ»

Sesungguhnya Nabi saw. pernah bersabda, “Makan sahurlah kalian karena dalam sahur itu terkandung berkah.” (HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibn Majah, Ahmad dan ad-Darimi).

22. Apa sunnah berbuka?

Orang yang berpuasa juga disunnahkan berbuka dengan makan kurma. Jika kurma tidak ada, ia disunnahkan berbuka dengan minum air. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Salman bin Amir yang mengatakan:

«قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِذَا اَفْطَرَ اَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمَرٍ فَاِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى مَاءٍ فَاِنَّهُ طَهُوْرٌ»

Rasulullah saw. pernah bersabda, “Jika seseorang di antara kalian berbuka, berbukalah dengan kurma; jika ia tidak mendapatkannya, berbukalah dengan air karena air itu suci.” (HR at-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibn Majah, Ahmad dan ad-Darimi).

23. Bagaimana sunnah doa berbuka ?

Selanjutnya, saat berbuka puasa seseorang disunnahkan untuk membaca doa berikut:

«اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ»

Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan berkat rezeki-Mu aku berbuka.

Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Abu Hurairah ra. yang mengatakan:

«كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَذَا صَامَ ثُمَّ اَفْطَرَ قَالَ: اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ»

Rasulullah saw. itu, jika berpuasa, lalu berbuka, Beliau biasa mengucapkan, “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan berkat rezeki-Mu aku berbuka.” (HR Abu Dawud).

Orang yang berpuasa Ramadhan juga disunnahkan untuk menyambung puasanya dengan puasa enam hari pada bulan Syawal. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Abu Ayyub ra. berikut:

«قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ اَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَالٍ كَانَ كَصِياَمِ الدَّهْرِ»

Rasulullah saw. pernah bersabda, “Siapa saja yang berpuasa pada bulan Ramadhan, kemudian menyambungnya dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawal, maka ia seperti telah berpuasa sepanjang tahun. (HR Muslim).

Pada hari Arafah, selain jamaah haji disunnahkan berpuasa. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Abu Qatadah ra.:

«قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَوْمُ عَاشُوْرَاءَ كَفاَرَةُ سَنَةٍ وَصَوْمُ يَوْمَ عَرَفَةٍ كَفَارَةُ سَنَتَيْنِ سَنَةٌ قَبْلَهَا مَاضِيَةً وَسَنَةٌ بَعْدَهَا مُسْتَقْبَلَةً»

Rasulullah saw. pernah bersabda, “Puasa Asyura adalah kafarah (dari dosa) satu tahun. Puasa Arafah adalah kafarah (dari dosa) dua tahun; satu tahun sebelumnya dan satu tahun berikutnya.”(HR Ahmad).

Puasa Asyura disunnahkan berdasarkan hadis Abu Qatadah di atas. Disunnahkan pula puasa pada hari sebelum Asyura, yakni tanggal sembilan Muharram. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Ibnu Abbas ra.:

«قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَئِنْ بَقَيْتُ اِلَى قَابِلٍ َلأَصُوْمَنَّ الْيَوْمَ التَّاسِعَ»

Rasulullah saw. pernah bersabda, “Andai aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada tanggal sembilan (bulan Muharram). (HR Ibn Majah dan Ahmad).

Dalam hadis riwayat Muslim, hadis di atas ditambah dengan kalimat berikut:

«فَلَمْ يَأْتِ الْعَامَ الْمُقْبِلَ حَتَّى تُوُفِيَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»

Tahun depan belum juga tiba, Rasulullah saw. telah terlebih dulu wafat. (HR Muslim).

Hari Asyura adalah hari kesepuluh dari bulan Muharram dan hari Tasu’a’ adalah hari kesembilan dari bulan tersebut.

Disunnahkan pula untuk berpuasa pada hari-hari putih (al-baydh), yakni puasa tiga hari pada tiap-tiap bulan. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Abu Hurairah ra. sebagai berikut:

«اَوْصَانِي خَلِيْلِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصِيَامِ ثَلاَثَةِ اَيَّامٍ كُلَّ شَهْرٍ»

Kekasihku (Rasulullah) saw. pernah berwasiat kepadaku agar berpuasa tiga hari pada setiap bulan. (HR Muslim, an-Nasa’i, Abu Dawud dan Ahmad).

Puasa tiga hari ini boleh dilakukan pada hari apa saja tanpa harus ditentukan. Hanya saja, yang dianggap utama adalah pada tanggal 13, 14 dan 15. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Abu Dzarr ra.:

«قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثًا، فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَاَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشَرَةَ»

Rasulullah saw pernah bersabda, “Jika engkau berpuasa tiga hari dalam sebulan, berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15.” (HR at-Tirmidzi dan Ahmad).

Ketetapan di atas juga didasarkan pada hadis penuturan Jarir bin Abdillah dari Nabi saw. yang pernah bersabda:

«صِيَامُ ثَلاَثَةِ اَيَّامٍ مِِنْ كُلِّ شَهْرٍ صِيَامُ الدَّهْرِ، اَيَّامُ البَيْضِ، ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَاَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ»

Puasa tiga hari pada setiap bulan adalah puasa sepanjang tahun, yakni puasa hari-hari putih, adalah: tanggal 13, 14, dan 15. (HR Muslim, an-Nasa’i, Ahmad dan ad-Darimi).

Disunnahkan pula untuk berpuasa pada hari Senin dan Kamis. Hal ini didasarkan pada hadis penuturan Aisyah ra. yang mengatakan:

«اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ اْلاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ»

Sesungguhnya Nabi saw. telah memilih waktu untuk berpuasa pada hari Senin dan Kamis. (HR at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ahmad).

Jadwal Imsakiyah Ramadhan Kab Merangin 1439 H 2018 M

Assalamu alaikum Saudara dan Saudari, muslimin dan muslimah, pada bulan ini dengan rahmat tuhan (ALLAH SWT), kita diberi kesempatan untuk menyambut dan menjalankan ibadah Puasa Ramadhan 1439H 2018M, inilah
Jadwal Imsakiyah Ramadhan Kab Merangin 1439 H 2018 M, semoga bermanfaat, amin

Jadwal Imsakiyah Kabupaten Merangin Tahun Ini

Baiklah saatnya kita melihat Jadwal imsakiyah Merangin Ramadhan hari ini yang kami dapatkan dari Hisab Rukyat (Sihat) Indonesia yang dirilis oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Waktu yang tertera di jadwal ini dalam WIB (Waktu Indonesia Barat).

UNTUK DAERAH KAB. MERANGIN
Lintang: 2? 4′ 7.22″ S, Bujur: 102? 16′ 19.39″ E
NO TANGGAL IMSAK SUBUH TERBIT DUHA ZUHUR ASAR MAGRIB ISYA
1 1 Ramadan 1439 H 04:38 04:48 06:03 06:24 12:11 15:33 18:11 19:23
2 2 Ramadan 1439 H 04:38 04:48 06:03 06:24 12:11 15:33 18:11 19:23
3 3 Ramadan 1439 H 04:38 04:48 06:04 06:25 12:11 15:33 18:11 19:23
4 4 Ramadan 1439 H 04:38 04:48 06:04 06:25 12:11 15:33 18:11 19:24
5 5 Ramadan 1439 H 04:38 04:48 06:04 06:25 12:11 15:34 18:11 19:24
6 6 Ramadan 1439 H 04:38 04:48 06:04 06:25 12:11 15:34 18:11 19:24
7 7 Ramadan 1439 H 04:38 04:48 06:04 06:25 12:11 15:34 18:11 19:24
8 8 Ramadan 1439 H 04:38 04:48 06:04 06:25 12:11 15:34 18:11 19:24
9 9 Ramadan 1439 H 04:38 04:48 06:04 06:25 12:11 15:34 18:11 19:24
10 10 Ramadan 1439 H 04:38 04:48 06:04 06:25 12:11 15:34 18:12 19:25
11 11 Ramadan 1439 H 04:38 04:48 06:04 06:26 12:12 15:35 18:12 19:25
12 12 Ramadan 1439 H 04:38 04:48 06:05 06:26 12:12 15:35 18:12 19:25
13 13 Ramadan 1439 H 04:38 04:48 06:05 06:26 12:12 15:35 18:12 19:25
14 14 Ramadan 1439 H 04:38 04:48 06:05 06:26 12:12 15:35 18:12 19:25
15 15 Ramadan 1439 H 04:38 04:48 06:05 06:26 12:12 15:35 18:12 19:25
16 16 Ramadan 1439 H 04:38 04:48 06:05 06:26 12:12 15:35 18:12 19:26
17 17 Ramadan 1439 H 04:38 04:48 06:05 06:27 12:12 15:36 18:12 19:26
18 18 Ramadan 1439 H 04:38 04:48 06:06 06:27 12:13 15:36 18:12 19:26
19 19 Ramadan 1439 H 04:38 04:48 06:06 06:27 12:13 15:36 18:13 19:26
20 20 Ramadan 1439 H 04:38 04:48 06:06 06:27 12:13 15:36 18:13 19:27
21 21 Ramadan 1439 H 04:39 04:49 06:06 06:27 12:13 15:36 18:13 19:27
22 22 Ramadan 1439 H 04:39 04:49 06:06 06:28 12:13 15:37 18:13 19:27
23 23 Ramadan 1439 H 04:39 04:49 06:06 06:28 12:13 15:37 18:13 19:27
24 24 Ramadan 1439 H 04:39 04:49 06:07 06:28 12:14 15:37 18:13 19:27
25 25 Ramadan 1439 H 04:39 04:49 06:07 06:28 12:14 15:37 18:14 19:28
26 26 Ramadan 1439 H 04:39 04:49 06:07 06:29 12:14 15:38 18:14 19:28
27 27 Ramadan 1439 H 04:40 04:50 06:07 06:29 12:14 15:38 18:14 19:28
28 28 Ramadan 1439 H 04:40 04:50 06:08 06:29 12:14 15:38 18:14 19:28
29 29 Ramadan 1439 H 04:40 04:50 06:08 06:29 12:15 15:38 18:14 19:29

 

7 Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan, Rugilah Bagi yang Tak Melakukan Ini

Insya Allah kita akan memasuki bulan Ramadhan. Bagus ini, banyak orang yang senantiasa gembira menyambutnya. Lantaran memang spesialnya bulan Ramadhan inil, Allah Swt sediakan beragam kenikmatan; mulai dari ampunan, rahmat, keberkahan, dilipatgandakannya pahala, dan lain-lainnya.

Untuk mengoptimalkan menikmati semua kenikmatan pada bulan Ramadhan yaitu mulai dari ampunan, rahmat, keberkahan, dilipatgandakannya pahala, dan lain-lainnya. maka akan kita bahas 7 Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan, Rugilah Bagi yang Tak Melakukan Ini

Apakah dengan nganggur saja, kita bisa otomatis dapat keberkahan, pahala, ampunan, dan sebagainya itu? Belum tentu. Tentunya, yah haruslah kita usahakan.

Setidaknya kita mengumpulkan 7 persiapan yang bisa kita lakukan. Berikut ini merupakan rinciannya.

1. Pelajari Fiqih seputar shaum Ramadhan

menyambut ramadhan

Iya, ini merupakan sebuah keniscayaan. Tidak bisa tidak, Anda harus kaji tsaqafah-tsaqafah Islam terkait bulan Ramadhan. Termasuk, fiqih shaum. Ini merupakan sebuah prioritas depan.

Nah, kebetulan, sebelumnya saya telah menerbitkan artikel “23 Hukum Seputar Puasa yang Wajib Anda Ketahui“. Silahkan bisa Anda baca terlebih dahulu, atau nanti.

Setidaknya, 23 poin itu bisa menjadi bekal dasar kita untuk menjalani bulan Ramadhan. Tentunya, lebih baik lagi kalau Anda kaji lebih jauh lagi.

2. Pelajari fadhilah-fadhilah di bulan Ramadhan

menyambut bulan suci ramadhan

Kewajiban kita memang banyak, namun insyaAllah itu semua bisa kita usahakan agar tertunaikan. Nah, selain untuk perihal wajib itu, ada baiknya waktu kita juga kita gunakan untuk lebih melakoni perihal sunnah.

Maka, agar lebih semangat, ada baiknya kita kaji atau kita ingat-ingat lagi apa saja keutaman-keutaman di bulan Ramadhan ini. Semoga, dengan begitu bisa semakin menambah semangat kita beramal.

Yang fardhu memang sudah sepatutnya kita kerjain baik saat Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Nggak usah ditanya. Begitu pula yang sunnah, pun memang sepatutnya kita kerjain baik saat Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Nah, namun, mumpung di Ramadhan ini “reward” dari amalan sunnah tersebut lebih lebih, maka ada baiknya kita lebih getol mengerjakannya.

3. Segera meng-qadha’ kewajiban puasa Ramadhan sebelumnya yang belum Anda tunaikan

menyambut bulan ramadhan

Bagi Anda yang tahun lalu ada bolong puasanya, tidak full sebulan Ramadhan; maka tentunya wajib meng-qadha’-nya. Dan yang namanya kewajiban itu tak boleh ditunda-tunda, harus disegerakan. Mumpung masih bulan Sya’ban. Kalau ada orang yang nunda-nunda tanpa udzur syar’i, dia berdosa.

Ingat  hadits dari A`isyah RA, bahwa dia berkata,”Aku tidaklah meng-qadha` sesuatu pun dari apa yang wajib atasku dari bulan Ramadhan, kecuali di bulan Sya’ban hingga wafatnya Rasulullah SAW.” [HR. At-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, dan Ahmad, hadits sahih). (Terdapat hadits-hadits yang semakna dalam lafazh-lafazh lain sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Lihat Imam Syaukani, Nailul Authar, hal. 871-872, hadits no. 1699].

4. Jaga kesehatan fisik

persiapan bulan ramadhan

Yah, lantaran justru saat Ramadhan ini kita akan makin getol beramal sholeh, maka kesehatan fisik juga perlu dipersiapkan.

Berhati-hatilah dengan al-haal kondisi yang biasanya bikin Anda jadi sakit. Barangkali dari sekarang Anda bisa berikhtiar mencegahnya dengan cara istirahat yang cukup, senantiasa konsumsi buah dan sayur; dan sebagainya

5. Cek persiapan harta lebih untuk berinfaq lebih

menyambut bulan puasa

 

Selain kita butuh tenaga, tentu kita juga perlu harta lebih, untuk beramal sholeh lebih.

6. Lebih ketatkan penjagaan diri dari dosa besar maupun kecil

persiapan menyambut ramadhan

Menjelang bulan Ramadhan, biasanya mulai semakin populer hadits dari Abu Hurairah RA berikut ini.

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan, maka akan diampuni semua dosa-dosanya yang telah lampau.” [Terdapat pada riwayat shahih dalam dua kitab shahih; Shahih Bukhori, no. 2014, dan shahih Muslim, no. 760, dari ]

Sebetulnya bagus, kalau pada melek dengan hadits ini. Namun, jangan sampai salah paham. Sayangnya ada sebagian oknum yang salah paham, malah jadi suka-sukanya mengerjakan dosa kecil maupun dosa besar, karena ia merasa bahwa toh nanti itu semua bisa diampuni. Dirinya bisa menjadi ‘putih bersih’ lagi. Mulai dari nol katanya.

Barangkali dia lupa dengan kaidah syara’, “Makna umum tetap dalam keumumannya, selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya”.

Faktanya, ternyata ada dalil lain yang mengkhususkan dalil sebelumnya tersebut.

أتدرون ما المفلس؟ قالوا: المفلس فينا من لا درهم له ولا متاع. فقال: إن المفلس من أمتي يأتي يوم القيامة بصلاة وصيام وزكاة، ويأتي قد شتم هذا وقذف هذا وأكل مال هذا وسفك دم هذا وضرب هذا، فيعطى هذا من حسناته وهذا من حسناته. فإن فنيت حسناته قبل أن يقضى ما عليه، أخذ من خطاياهم فطرحت عليه ثم طرح في النار

“Tahukah kalian siapa orang yang pailit (bangkrut)? Para sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta.” Nabi berkata: “Sesungguhnya orang yang bangkrut di umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala) shalat, puasa, dan zakat; akan tetapi dia datang (dengan membawa dosa) telah mencaci si ini, menuduh si ini, memakan harta si ini, menumpahkan darah si ini, dan memukul si itu; maka si ini (orang yang terzhalimi) akan diberikan (pahala) kebaikannya si ini (pelaku kezhaliman), dan si ini (orang yang terzhalimi lainnya) akan diberikan kebaikannya si ini (pelaku kezhaliman). Jika kebaikannya telah habis sebelum dituntaskan dosanya, maka (dosa) kesalahan mereka diambil lalu dilemparkan kepadanya kemudian dia dilemparkan ke dalam Neraka.” [HR.  Muslim]

Maka, belum tentu dengan puasa Ramadhan, beneran semua dosa-dosa kita terampuni semuanya. Dari nol pulak itu..

Jadi, puasa Ramadhan itu dapat menghapuskan dosa-dosa kecil, dengan syarat dosa-dosa besar ditinggalkan.

Dosa-dosa besar, yaitu perbuatan yang diancam dengan hukuman di dunia dan siksaan di akhirat. Misalnya: zina, mencuri, minum arak, memutuskan hubungan kekeluargaan, transaksi ribawi, risywah (suap), memutuskan perkara dengan selain hukum Allah.

7. Mencari hilal

seputar hukum puasa ramadhan

Berkenaan dengan sabab (sebab dilaksanakannya suatu hukum) puasa Ramadhan, syara’ menjelaskan bahwa ru’yah al-hilâl merupakan sabab dimulai dan diakhirinya puasa Ramadhan. Apabila bulan tidak bisa diru’yah, maka puasa dilakukan setelah istikmâl bulan Sya’ban.

Ketetapan ini didasarkan banyak dalil. Salah satu di antaranya adalah Hadits-hadits berikut:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ

Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya (hilal). Apabila pandangan kalian tersamar (terhalang), maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. [HR. Bukhari]

Berdasarkan Hadits-hadits tersebut, para fuqaha berkesimpulan bahwa penetapan awal dan akhir Ramadhan didasarkan kepada ru’yah al-hilâl. Imam al-Nawawi menyatakan, “Tidak wajib berpuasa Ramadhan kecuali dengan melihat hilal. Apabila mereka tertutup mendung, maka mereka wajib menyempurnakan Sya’ban (menjadi tiga puluh hari), kemudian mereka berpuasa. [al-Nawawi, al-Majmû’Syarh al-Muhadzdzab,6/269]

Nah, begitulah kurang-lebih 7 hal yang patut Anda persiapkan, menjelang bulan Ramadhan yang insya Allah akan kita masuki beberapa hari lagi. Semoga kita semua lebih dikuatkan oleh Allah Swt selama beramal di bulan Ramadhan nanti. Dan tentunya semoga semangat kita istiqamah hingga akhir Ramadhan, hingga Syawal, dan seterusnya. Bahkan meningkat. Aamiin.

 

Resep dan Cara Memasak Sayur Lodeh yang Enak dan Gurih

Sayur lodeh adalah salah satu jenis sayur yang sering disajikan oleh ibu rumah tangga.

Meskipun sayur ini terbilang cukup sederhana tetapi rasanya begitu menggugah selera. Sayur ini biasanya terdiri dari komposisi sayuran yang sangat beraneka ragam. Dimana biasanya masing-masing ibu rumah tangga selalu menggunakan sayur yang berbeda-beda dan sesuai dengan selera masing-masing. Dan memang pada kenyataannya sayur ini memiliki variasi yang begitu beragam sesuai dengan daerah masing-masing. Namun meskipun begitu yang menjadi p

Tutorial Membuat Kamera CCTV Dengan Smartphone / Tablet Android

Bagi Anda yang ingin iseng-iseng merekam aktifitas pacar, teman dengan kamera CCTV tak perlu mengeluarkan banyak uang hanya untuk membeli kamera CCTV karena sekarang Anda dapat membuat kamera CCTV dengan ponsel Android Anda. Semua jenis Smartphone Android dapat di pakai untuk kamera CCTV pastinya yang memiliki fasilitas kamera. Menarik bukan, Anda penasaran??? Oke kita bahas tutorial lengkapnya.
Kamera CCTV pada umumnya di lihat atau di pantau dengan menggunakan PC atau laptop namun dengan kamera CCTV ponsel Android, untuk memantau aktifitas kamera CCTV smartphone juga dapat di lakukan dengan Posel atau Smartpone Android. Jadi Anda dapat memantau kamera ponsel CTV dengan PC dan dengan smartphone Android yang tentunya lebih menarik karena smartphone tersebut dapat di bawa kemana-mana atau portabel. Tutorial kali ini akan membahas dua jenis yaitu kamera CCTV Android dengan PC sebagai pemantau dan kamera CCTV smartphone Android dengan Smartphone Android sebagai pemantau.
Untuk aplikasi tambahan yang diperlukan dalam membuat kamera CCTV smartphone Android adalah IP Webcam. Aplikasi ini bersifat gratis yang dapat Anda unduh langsung ke Play Store.
Setelah aplikasi IP Webcam selesai Anda download tidak perlu di setting terlebih dahulu biarkan saja, hal yang terpenting di sini adalah mengkoneksikan kamera CCTV Android ke PC atau Latop dan ke Android. Langkah-langkahnya adalah ; Buka aplikasi IP Webcam, geser menu ke menu paling bawah dan temukan menu Start server klik dan otomatis kamera CCTV Anda sudah menyala.
Untuk menghubungkan kamera CCTV Smartphone Android Anda ke PC, laptop atau ke Android pastikan Smartphone Android Anda terkoneksi dengan PC, Laptop atau Android dengan jaringan Wi-fi selanjutnya lihat IP Adress yang terdapat di layar bawah tenggah Smartphone Android Anda, seperti pada gambar yang di beri kotak berwarna merah pada gambar di bawah ini. IP adress http://192.168.1.102:8080 ini lah nantinya Anda gunakan untuk mengkoneksikan kamera CCTV smartphone Android Anda. IP Adress ini berbeda- beda sesuai dengan domisili negara tempat Anda berada.
Menghubungkan Kamera CCTV Smartphone Android Ke  PC atau Laptop
Setelah kamera CCTV smartphone Android Anda dalam posisi on untuk di koneksikan ke PC atau laptop Anda dengan Wifi selanjutnya cukup masuk ke browser silahkan pilih jenis browser apa saja bisa Crome, Mozilla Firefox, IE dan lain-lain. Selanjutnya ketik IP adress yang terdapat di layar Smartphone Anda sebagai contoh http://192.168.1.102:8080kemudian enter.
Pada tutorial kali ini Saya menggunakan Mozilla Firefox, Kamera CCTV Android sudah terkoneksi dengan PC atau laptop, untuk melihatnya tekan menu Browser dan kamera sudah bisa di pantau langsung dari PC / laptop. Langkah selanjutnya kita setting menu sesuai dengan kebutuhan kita dalam menggunakan kamera CCTV smartphone Android.
Kamera CCTV Android ini memiliki kelebihan yang sangat beragam, selain itu tampilan video yang di hasilkan juga memiliki kwalitas yang sangat bagus berbeda dengan kamera CCTV yang sering Anda lihat di program acara televisi yaitu CCTV.
Jika Anda ingin menggunakan kamera CCTV ini pada malam hari atau membutuhkan cahaya Anda cukup menekan tmbol LED Flashlight menu ini hanya akan bisa berjalan jika kamera Android Anda memiliki fasilitas LED. Anda juga dapat menampilkan gambar layar dalam ukuran dekat dengan menekan menu Zoom. Untuk memantau kamera CCTV dalam keadaan gelap atau malam hari gunakan menu Night Vision maka tampilan kamera CCTV Anda seperti layaknya tampilan acara di program televisi Masih Dunia LainUntuk merekam aktifitas kamera CCTV smartphone Android Anda gunakan menu Recorder Control, di menu ini Anda dapat mengatur durasi lama waktu dalam merekam.

Menghubungkan Kamera CCTV Smartphone Android Ke  Smartphone Android.

Untuk melihat atau memantau kamera CCTV Smartphone Adroid dengan smartphone atau Tablet Android caranya hampir sama dengan di PC atau Laptop yang berbeda di sini adalah koneksi Wifi yang di gunakan adalah antar Android dengan Android. Pada contoh tutorial kali ini saya gunakan Samsung Galaxy ACE 3 sebagai kamera CCTV sedangkan untuk memantau kamera CCTV saya gunakan Samsung Galaxy Tab 3.8.0.
Pertama koneksikan terlebih dahulu kedua Smartphone Android Anda, Samsung Galaxy Tab 3 gunakan sebagai Wi-fi dan Samsung galaxy ACE 3 sebagai peneriman jaringan WI-Fi. jika Anda masih bingung cara mengkoneksikan Android ke sesama Android dengan jaringan Wifi klik di sini.
Setelah terhubung buka aplikasi IP Webcam, lalu buka Crome di Android Anda ketik IP adress yang terdapat di layar smartphone lalu klik tombol Go.
Karena ukuran layar di Crome Android Samsung galaxy Tab 3.8.0 ini relatif lebih kecil Anda dapat menggunakan fasilitas zoom di Crome Anda sehingga ukuran layar pemantu kamera CCTV Smartphone Android menjadi lebih besar atau Anda dapat memutar layar Smartphone Anda. Hasilnya seperti dibawah ini.

 

Hasil dari rekaman kamera video CCTV dengan Samsung Galaxy Tab 3 dapat Anda lihat di video di bawah ini, di sini Anda akan melihat hasil kamera CCTV yang menghasilkan kualitas gambar lebih jelas.