8 Amalan Yang Bisa Mendatangkan Banyak Rezeki

banyak sedekah rezeki melimpahSeperti Rezeki, Jodoh, dan Kematian adalah rahasia Allah AWT yang tidak bisa kita terka sama sekali. Banyak orang yang telah berusaha dengan sekuat tenaga atau bekerja keras,namun hanya Allah sajalah yang menentukan hasilnya.Bahkan tak jarang sudah bekerja keras dalam beriktiar, namun rezeki yang di harapkan tak kunjung datang.

Meski rezeki ada yang mengatur, namun untuk menjemput agar lebih cepat, tentu telah diberi tahu Allah lewat ber bagai Amalan untuk memperlancar Rezeki, dan banyak yang sudah membuktikan dan masuk akal, amalan-amalan tersebut adalah :

1. Sholat Dhuha

Sudah banyak cerita-cerita tentang orang yang merutinkan sholat dhuha dan mendapati rezeki mereka lancar luar biasa. Sholat duha dilakuan sama seperti sholat fardu hanya saja jumlah rokaatnya yang menyesuaikan serta waktunya yang berbeda pula. Sholat dhuha bisa dilakukan minimal dua rokaat hingga maksimal 12 rokaat. Sedangkan waktunya adalah setelah fajar atau tergelincirnya matahari.

sholat-dhuha-300x255

Banyak riwayat yang menunjukkan keutamaan sholat dhuha, terutama yang urusannya dengan rezeki. Tergantung dari berapa banyak jumlah rokaat yang kita lakukan, maka semakin besar pahalanya. Bahkan ada suatu riwayat yang mengatakan jika kita rutin 12 rokaat sholat duha, maka Allah akan membangunkan sebuah rumah indah di surga nanti. Manfaatkan sedikit waktu luang ketika pagi untuk melakukan amalan ini. Insyaallah maka segala usaha akan lancar.

2. Dengan Bersedekah

sedekahSurat Al An’am ayat 160 menjelaskan dengan sangat gamblang jika kita bersedekah satu balasannya minimal 10. Jika Allah saja sudah berjanji demikian, lantas kenapa kita tidak mempercayai hal ini? Maka dari itu, kita bisa memanfaatkan ini sebagai jalan untuk memperlancar rezeki.

Sedekah seribu rupiah, sudah barang pasti akan dibalas sebanyak 10 kali lipat. Namun tidak mesti uang, tapi bisa pula dengan terhindar dari bencana, kerjaan lancar dan sebagainya. Jadi, makin banyak kita sedekah makin besar pula balasannya. Mungkin ada yang bertanya, sedekah kok tidak ikhlas? Apakah bermasalah jika kita justru mengharap kepada Allah? Justru Allah sendiri yang meminta kita untuk berdoa atas semua hajat-hajat yang diinginkan.

3. Membaca Surat Wakiah

Surat Wakiah berada di urutan 96 setelah Surat Ar-Rahman. Wakiah sudah lama diketahui sebagai cara agar kita lebih mudah mendapatkan rezeki. Bahkan surat ini sering pula dijuluki dengan surat rezeki

Tidak ada cara khusus untuk mengamalkan surat Wakiah ini melainkan hanya cukup dibaca saja. Waktunya sendiri juga tidak tentu dan bisa kita sesuaikan, misalnya setelah sholat fardu. Banyak orang yang merutinkan membaca Wakiah dan tak lama kemudian dibanjiri dengan rezeki-rezeki yang tak diduga.

4. Puasa Senin Kamis

Puasa Senin Kamis juga jadi amalan pengumpul rezeki. Bahkan tak hanya itu, fadilah puasa ini bisa membuat kita diampuni dalam rentang waktu selama berpuasa. Terlebih lagi dengan puasa kita bisa mampu mengendalikan hawa nafsu.

Rasul sangat menyukai puasa Senin Kamis dan orang yang melakukannya. Sehingga amalan ini pun makin bertambah nilainya karena juga termasuk sunnah yang diutamakan. Perlu diketahui, barang siapa menyukai sunnah Nabi Muhammad maka ia akan bersama dengannya di surga nanti.

5. Istighfar dan Sholawat

Istighfar dan sholawat kepada Nabi Muhammad juga sering kali dikaitkan dengan amalan penjaring rezeki. Tata cara pelaksanaannya bisa sewaktu-waktu dengan jumlah yang tidak ditentukan. Namun minimal setidaknya 100 kali dalam sehari.

Tak susah kok melakukan amalan ini karena bisa dilakukan kapan pun. Entah ketika di jalan berangkat ke kantor, jeda makan siang, atau ketika sedang bekerja sambil diucapkan dalam hati. Fadilah istighfar kita akan diampuni oleh Allah, sedangkan sholawat akan mendekatkan kita kepada Nabi Muhammad. Sehingga nantinya kita nantinya insyaallah akan mendapatkan syafaatnya.

6. Sholat Tahajud

Waktu kecil dulu, ketika kita sangat dekat dengan orangtua, maka mereka akan dengan gampangnya memberikan apa yang kita inginkan. Analogi ini sama seperti hubungan kita dengan Allah. Ketika kita makin dekat denganNya, maka makin mudah pula Allah memberikan apa yang kita butuhkan. Nah, sholat tahajud adalah salah satu cara media keintiman kita kepada Sang Pencipta.

Allah menjamin siapa pun yang mau susah-susah bangun malam dan mendirikan sholat tahajud [Image Source]
Allah menjamin siapa pun yang mau susah-susah bangun malam dan mendirikan sholat tahaju
Malam hari ketika orang-orang tertidur dengan lelapnya, Allah turun ke Bumi untuk melihat hamba-hambanya yang menegakkan sholat dan meminta dengan sungguh-sungguh. Allah menjamin barang siapa meminta di waktu mustajab seperti ini maka dikabulkan. Buktinya sendiri adalah para pembesar dan orang-orang sukses negeri ini. Ya, di antara mereka pasti ada yang memiliki amalan sholat tahajud sebagai kunci pembuka rezekinya.

7. Selalu Bersyukur atas nikmat Allah

Selalu bersyukur atas nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita

8. Selalu Menghormati Orang tua

Selalu menghormati kedua orang tua, karena ridho Allah adalah Ridho orangtua..

Mendatangkan rejeki yang berlimpah bukan hal yang susah sebenarnya jika kita tahu caranya. Salah satunya lewat cara-cara di atas. Sudah banyak cerita orang sukses yang berawal dari mengamalkan deretan amalan di atas. Meskipun demikian, kaya sejatinya tidak selalu berupa harta benda. Bahkan ketika kita bisa sabar, baik kepada sesama, tidak mudah membenci, maka hal-hal tersebut juga bisa dibilang kaya. Bahkan nilainya tidak terhingga.

Kultum ” Keutamaan Shalat Dhuha”

Alhamdulilah, Segala puji bagi Allah Tuhan semesta Alam, shalawat dan salam semoga tetap tercurah atas Uswah Hasanah Nabiyullah Muhammad SAW.
Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia!

sholat-dhuha-300x255

Banyak yang belum memahami keutamaan shalat yang satu ini. Ternyata shalat Dhuha bisa senilai dengan sedekah dengan seluruh persendian. Shalat tersebut juga akan memudahkan urusan kita hingga akhir siang. Ditambah lagi shalat tersebut bisa menyamai pahala haji dan umrah yang sempurna. Juga shalat Dhuha termasuk shalat orang-orang yang kembali taat.

Di antara keutamaan shalat Dhuha adalah:

Pertama: Mengganti sedekah dengan seluruh persendian

Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at” (HR. Muslim no.  720).

Padahal persendian yang ada pada seluruh tubuh kita sebagaimana dikatakan dalam hadits dan dibuktikan dalam dunia kesehatan adalah 360 persendian. ‘Aisyah pernah menyebutkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّهُ خُلِقَ كُلُّ إِنْسَانٍ مِنْ بَنِى آدَمَ عَلَى سِتِّينَ وَثَلاَثِمَائَةِ مَفْصِلٍ

Sesungguhnya setiap manusia keturunan Adam diciptakan dalam keadaan memiliki 360 persendian” (HR. Muslim no. 1007).

Hadits ini menjadi bukti selalu benarnya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun sedekah dengan 360 persendian ini dapat digantikan dengan shalat Dhuha sebagaimana disebutkan pula dalam hadits dari Buraidah, beliau mengatakan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَبِى بُرَيْدَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « فِى الإِنْسَانِ سِتُّونَ وَثَلاَثُمِائَةِ مَفْصِلٍ فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهَا صَدَقَةً ». قَالُوا فَمَنِ الَّذِى يُطِيقُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « النُّخَاعَةُ فِى الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا أَوِ الشَّىْءُ تُنَحِّيهِ عَنِ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَقْدِرْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُ عَنْكَ

Manusia memiliki 360 persendian. Setiap persendian itu memiliki kewajiban untuk bersedekah.” Para sahabat pun mengatakan, “Lalu siapa yang mampu bersedekah dengan seluruh persendiannya, wahai Rasulullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Menanam bekas ludah di masjid atau menyingkirkan gangguan dari jalanan. Jika engkau tidak mampu melakukan seperti itu, maka cukup lakukan shalat Dhuha dua raka’at.” (HR. Ahmad, 5: 354. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih ligoirohi)

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan,  “Hadits dari Abu Dzar adalah dalil yang menunjukkan keutamaan yang sangat besar dari shalat Dhuha dan menunjukkannya kedudukannya yang mulia. Dan shalat Dhuha bisa cukup dengan dua raka’at” (Syarh Muslim, 5: 234).

Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani rahimahullah mengatakan,  “Hadits Abu Dzar dan hadits Buraidah menunjukkan keutamaan yang luar biasa dan kedudukan yang mulia dari Shalat Dhuha. Hal ini pula yang menunjukkan semakin disyari’atkannya shalat tersebut. Dua raka’at shalat Dhuha sudah mencukupi sedekah dengan 360 persendian. Jika memang demikian, sudah sepantasnya shalat ini dapat dikerjakan rutin dan terus menerus” (Nailul Author, 3: 77).

Kedua: Akan dicukupi urusan di akhir siang

Dari Nu’aim bin Hammar Al Ghothofaniy, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تَعْجِزْ عَنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ

Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang.” (HR. Ahmad (5/286), Abu Daud no. 1289, At Tirmidzi no. 475, Ad Darimi no. 1451 . Syaikh Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Penulis ‘Aunul Ma’bud –Al ‘Azhim Abadi- menyebutkan, “Hadits ini bisa mengandung pengertian bahwa shalat Dhuha akan menyelematkan pelakunya dari berbagai hal yang membahayakan. Bisa juga dimaksudkan bahwa shalat Dhuha dapat menjaga dirinya dari terjerumus dalam dosa atau ia pun akan dimaafkan jika terjerumus di dalamnya. Atau maknanya bisa lebih luas dari itu.” (‘Aunul Ma’bud, 4: 118)

At Thibiy berkata, “Yaitu  engkau akan diberi kecukupan dalam kesibukan dan urusanmu, serta akan dihilangkan dari hal-hal yang tidak disukai setelah engkau shalat hingga akhir siang. Yang dimaksud, selesaikanlah urusanmu dengan beribadah pada Allah di awal siang (di waktu Dhuha), maka Allah akan mudahkan urusanmu di akhir siang.” (Tuhfatul Ahwadzi, 2: 478).

Ketiga: Mendapat pahala haji dan umrah yang sempurna

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. Tirmidzi no. 586. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Al Mubaarakfuri rahimahullah dalam Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At Tirmidzi (3: 158) menjelaskan, “Yang dimaksud ‘kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at’ yaitu setelah matahari terbit. Ath Thibiy berkata, “Yaitu kemudian ia melaksanakan shalat setelah matahari meninggi setinggi tombak, sehingga keluarlah waktu terlarang untuk shalat. Shalat ini disebut pula shalat Isyroq. Shalat tersebut adalah waktu shalat di awal waktu.”

Keempat: Termasuk shalat awwabin (orang yang kembali taat)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يحافظ على صلاة الضحى إلا أواب، وهي صلاة الأوابين

Tidaklah menjaga shalat sunnah Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali taat). Inilah shalat awwabin.” (HR. Ibnu Khuzaimah, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib 1: 164). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Awwab adalah muthii’ (orang yang taat). Ada pula ulama yang mengatakan bahwa maknanya adalah orang yang kembali taat” (Syarh Shahih Muslim, 6: 30).

Semoga Allah memberikan kita hidayah dan taufik untuk merutinkan shalat yang mulia ini. Wallahu waliyyut taufiq.

Kultum “Hikmah Dibalik Musibah”

Alhamdulilah, Segala puji bagi Allah Tuhan semesta Alam, shalawat dan salam semoga tetap tercurah atas Uswah Hasanah Nabiyullah Muhammad SAW.
Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia!

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 214:

[Tidak akan masuk surga bagi mereka yang tak dapat melewati ujian-Nya]

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

am hasibtum an tadkhuluu aljannata walammaa ya/tikum matsalu alladziina khalaw min qablikum massat-humu alba/saau waaldhdharraau wazulziluu hattaa yaquula alrrasuulu waalladziina aamanuu ma’ahu mataa nashru allaahi alaa inna nashra allaahi qariibun

 

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

Demikianlah kata pasti yang tak mungkin diubah-ubah sebagai sunnatullah, bahwa seseorang tak mungkin dengan mudah akan masuk surga tanpa adanya derita dan cobaan. Memang adalah suatu konskewensi logis yang harus diterima oleh setiap insan tanpa pandang bulu, ialah hidup ini pasti dengan penderitaan dan cobaan dalam berbagai bentuk. Tak seorang pun yang lepas dari padanya. Mau hidup berarti mau pula menerima cobaan. Hidup tanpa cobaan bukan di dunia tempatnya, kelak di sorga Ilahi. Di akheratlah cobaan baru bisa berhenti. Bagi mereka yang medapatkan ampunan Allah akan hidup di sana dengan tenang dan bahagia.

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ (١٥٥

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ (١٥٦

Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) berfirman : “Sungguh akan Kami uji kalian dengan adanya rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan kekurangan buah-buahan dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan;Innaa lillahi wa innaa ilaihi rooji’un. (QS. al-Baqarah: 155-156)

Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) timpakan kepada kita ujian ataupun musibah bukan berarti Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) benci kepada kita, bahkan menunjukkan Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) sayang kepada kita, sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadits shahih dari Anas ibnu Malik raḍyAllāhu 'anhu (may Allāh be pleased with him) bahwasanya Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) bersabda :

“Besarnya pahala tergantung besarnya ujian dan sesungguhnya apabila Allah menyenangi suatu kaum, Dia mengujinya. Barangsiap ridho maka Allahpun ridho, dan barangsiapa yang marah, maka Dia Marah.” (HR. Shahih Ibnu Majah 2/373)

Dalam hadits yang lain Rasulullah ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) bersabda : “Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan, dan menzalimi lalu beristighfar, maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah.” (HR. Al-Baihaqi)

Berbagaimacam bencana sedang menghampiri Negeri kita. Dari mulai wabah penyakit, longsor, banjir serta meletusnya gunung sinabung yang awan panasnya sudah memakan puluhan korban jiwa.

Apakah Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) telah berbuat dzholim kepada kita…? Tidakkah kita berkaca dan merenung sejenak betapa kerdilnya kita jika kita hanya bisa melamun bahkan terlarut dalam kesedihan dalam menghadapi ujian ini…? Adakah hikmah dibalik musibah ini…?

Barangkali timbul pertanyaan dalam pikiran kita untuk apa  Allah menguji kita sedangkan kita ini sudah beriman, taat dalam menjalankan ibadah ya shalat, puasa, bersedekah mengapa tidak orang orang kafir saja yang jelas jelas kufur nikmat ?

Bapak ibu yang dirahmati Allah ketika Allah menimpakan musibah kepada seorang hamba Nya bukan berarti Allah tidak sayang kepada hamba Nya namun  justru sebaliknya dengan ditimpakan musibah itulah Allah bermaksud mengangkat derajat iman dan ketakwaan kita. Allah bermaksud menyelamatkan kita dari siksa api neraka, terlebih Allah bermaksud memberi hidayah kepada hamba yang dipilih Nya. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda : “ Jika Allah menghendaki kebaikan kepada seorang hamba Nya maka akan ditimpakan kepadanya musibah, akan ditunjukkan aib dirinya dan akan dipahamkan akan urusan agamanya “.

Maksudnya hadits itu , kalau Allah menghendaki kebaikan pada kita maka Allah akan menimpakan musibah terlebih dahulu kepada kita, contohnya begini, Bapak Ibu pernah nggak kemalingan ? Ibu pernah kemalingan apa ? ya hampir semua kita pernah kehilangan entah kecil atau besar sedikit atau banyak. Pertanyaannya kenapa Allah kirim maling kerumah kita ? Apa sih gunanya maling itu ? kata para ulama maling iku gunane gawe njukuk amale wong sing gak eling. Jadi artinya kalau kita kehilangan mobil, motor, uang itu maksudnya Allah menunjukkan aib kita bahwa  amal sedekah kita  masih terlampau sedikit, kita masih  tergolong orang yang pelit makanya Allah mengingatkan kita dengan mengambil paksa harta kita. Jadi kalau barang barang kita hilang itu bukan berarti karena kita kurang hati hati dalam menyimpannya atau menjaganya tapi itu memang sudah menjadi skenarionya Allah agar kita bisa mengambil hikmahnya.  Allah bermaksud memberikan hidayah kepada kita bermaksud untuk mengangkat iman dan ketakwaan kita, jadi jangan bersedih, jangan menyalahkan anak ketika sepeda motornya hilang didepan warnet dengan ngatakan tidak hati hati. Orang yang iman takwanya sudah diangkat oleh Allah, kata Allah : “ Lakhoufun alaihim walahum layahzanun “. Tidaklah mereka takut dan bersedih hati. Dan masih banyak contoh contoh yang Bapak ibu bisa mengambil hikmah atau pelajaran dari setiap musibah. Marilah kita tetap berprasangka baik kepada Allah dan memohon semoga Allah akan menggantinya yang lebih baik atas musibah yang menimpa kita.

Bapak Ibu yang dirahmati Allah seperti saya sampaikan diatas bahwa setiap orang pasti akan mendapat giliran ditimpa musibah. Lha kalau giliran itu benar benar sampai pada kita lalu bagaimana cara menyikapinya ?  Didalam buku yang berjudul jiwa yang sehat karangan eks Direktur Utama Rumah Sakit Islam Surabaya yang juga  merupakan pakar psikolog memberikan tips  dengan mengatakan : “ ujian hidup itu adalah suatu keniscayaan yang tak dapat diingkari. Tak perlu lari yang diperlukan adalah antisipasi. Ujian itu adalah bagian  dari hidup itu sendiri yang memang kita perlukan juga sebagai sarana belajar agar kita menjadi lebih  tegar  dalam menjalani hidup. Jangan hadapi suatu musibah itu subyektif-emosional  yang akan menyebabkan kita selalu bersedih tapi hadapilah dengan obyektif – rasional dan realitas sehingga kita bisa mengambil manfaatnya ”.

Ada kisah Seseorang yang  pernah punya pengalaman kehilangan motor ketika sholat maghrib dimasjid, padahal pada saat itu motor  sudah di kunci, ketika turun sholat motor raib dan maling yang di cari tidak ketemu, dia cuma bisa pasrah dan berpikir positif bahwa Allah  ingin mengganti motornya dengan yang lebih baru, benar saja dalam tahun yang sama dia bisa membeli 3 unit motor yang baru. Alhamdulillah.

Yang penting bagi kita adalah kapan saja kita menerima suatu cobaan, maka kita hadapi dengan tabah disertai dengan ikhtiar untuk mengatasinya kemudian tawakkal berserah diri kepada Allah untuk menantikan keputusannya. Dengan cara demikian termasuklah kita dalam orang-orang yang digambarkan dalam hadits Rasulullah, “Sesungguhnya Allah akan menguji dan mencoba salah seorang di antara kamu dengan cobaan sebagaimana seorang kamu menguji kadar emasnya dengan api. Maka sebagian mereka akan keluar dari ujian itu bagaikan emas kuning mengkilat, maka itulah orang yang dipeliharakan Allah dari bermacam-macam syubhat dan sebagian mereka akan keluar bagaikan emas hitam, maka itulah orang yang tergoda fitnah.” (HR Thabrany).

Pada akhirnya sebagai kesimpulan dengan memahami setiap hikmah yang  terkandung dalam  musibah yang mendatangi  kita mari kita jadikan sebagai spirit untuk meningkatkan iman dan ketakwaan kita, janganlah kita terus bersedih hati ketika musibah menimpa kita, hadapilah dengan syukur dan sabar karena semua itu merupakan sunatullah,  tidak ada seorangpun yang mampu lari untuk menghindarinya.  Dan yakinlah  setiap persoalan pasti ada solusinya karena Allah telah menyampaikan dalam Al Qur’an  : “ setelah kesulitan pasti ada kemudahan “.